Untitled Document
BAB 10 : FALLACIES of REASONING
Fallacy dibagi menjadi 2 yaitu :
- Formal Fallacy : diakibatkan salah menalar. Dari premis A menuju kesimpulan B ada langkah yang salah atau hilang.
- Informal Fallacy : menggunakan langkah yang benar untuk menuju kesimpulan, namun melibatkan hal yang tidak memuhi syarat (bahasa, arti ambigu dlsb) Infromal Fallacy terdiri atas 4 kelompok
- Linguistic
- Relevance-Omission
- Relevance-Intrusion
- Relevance-Presumption
Formal Fallacy
terdiri atas beberapa macam:
- Affirming the consequent : menyimpulkan sebab dari akibat.
- Conclusion which denies premises : kesimpulan yang berlawanan dengan premis.
- Contradictiory premises : premis yang bertentangan.
- Denying the antecedent : menentang sebab untuk membalikkan akibat.
- Exclusive premises : menggunakan 2 premis negatif
- Existential Fallacy : Premis menyatakan “semua”, namun kesimpulan menyatakan “beberapa”, merayu orang percaya bahwa premis benar.
- False conversion : membalik fakta yang mengandung “beberapa”.
- Illicit process : satu atribut kelompok ini dan itu sama, bukan berarti atribut yang lain juga sama.
- Positive conclusion, negative premis : Kesimpulan positif berdasar 2 premis dimana salah satunya adalah negatif
- Quaternio terminorum : Empat pernyataan
- Undistributed middle : ciri kelas diambil sebagian untuk menyamakan kedua kelas.
Informal Fallacy
1. Informal Fallacy (Linguistic)
dibagi menjadi beberapa macam yaitu :
• Linguistic accent : maksud suatu pernyataan tergantung konteks (menyelewengkan maksud).
• Linguistic amphiboly : susunan kalimat yang ambigu.
• Linguistic composition : benar untuk setiap member, belum tentu benar untuk seluruh kelas.
• Linguistic division : kebalikan composition.
• Linguistic equivocation : menggunakan arti yang ambigu untuk mengakali.
• Linguistic reification / hypostatization : menganggap setiap kata memiliki eksistensi nyata.
2. Informal Fallacy (Relevance – Ommision)
dibagi menjadi beberapa macam yaitu :
• Bogus dilemma : Seolah-olah hanya itulah pilihannya
• Concealed quantification : Pemberian atribut yang tidak jelas, apa ke seluruh kelas, atau beberapa anggotanya saja
• Damning the alternatives : Seolah-olah satu pilihan benar karena pilihan yang lain salah
• Definitional retreat : Membela diri dari bantahan dengan mengubah definisi
• Extensional pruning : Membela diri dari bantahan dengan definisi tidak umum (atau arti literal)
• Argumentum ad ignoratiam : Menyalahkan atau membenarkan klaim atas tidak adanya bukti
• Argumentum ad lapidem : Kepala batu
• Argumentum ad nauseam : Menggunakan perulangan agar terlihat benar
• One-sided assessment : Hanya melihat satu sisi masalah
• Refuting the example : Menolak klaim dengan pernyataan yg bukan inti permasalahan
• Shifting ground : Menyangkal dg alasan bahwa klaim awal bukan seperti itu maksudnya
• Shifting the burden of proof : Mengalihkan tanggung jawab atas bukti
• Special Pleading : Menuntut double standar
• The straw man : Bila tidak bisa membantah, hajar versi extremenya
• The exception that proves the rule : Perkecualian yg malah digunakan utk membenarkan
• Trivial objections : Menyalahkan sesuatu yg jauh hubungannya, atau masalah-masalah sepele
• Unaccepted enthymemes : Menggunakan enthymemes utk argumen
• Unobtainable perfection : Menyalahkan karena tidak sempurna
3. Informal Fallacy (Relevance – Intrusion)
dibagi menjadi beberapa macam yaitu :
• Blinding with science : Menggunakan istilah ilmiah agar terlihat seolah benar
• Argumentum ad crumenam : Kebenaran ditentukan oleh uang
• Emotional appeals : Memanfaatkan emosi untuk mempengaruhi pendapat
• Every schoolboy knows : Lebih baik kamu setuju daripada dibilang oon
• The genetic fallacy : Menilai kebenaran argumen berdasar siapa sumbernya
• Argumentum ad hominem [abussive] : Menyerang orangnya, bukan pendapatnya
• Argumentum ad hominem [circumstancial] : Mempengaruhi pendapat dengan memanfaatkan posisi/kepentingan lawan
• Ignoratio elenchi : Membenarkan satu pendapat karena berhasil membenarkan pendapat yg lain
• Irrelevant humour : Guyonan digunakan untuk mengalihkan perhatian
• argumentum ad lazarum : Orang miskin tidak selalu lebih baik daripada orang kaya
• Loaded words : Mempengaruhi pendapat dengan kata-kata heboh penuh prasangka
• Argumentum ad misericordiam : Mempengaruhi pendapat berdasar kasihan
• Poisoning the well : Menyerang sebelum lawan memberikan argumennya
• The red herring : Memberi fakta lain yg tidak berhubungan dan membuat kesimpulan tak tercapai
• The runaway train : Membawa argumen ke hal-hal yg jauh
• The slippery slope : Menganggap satu tahap pasti diikuti tahap-tahap berikutnya
• Tu quoque : Menentang pendapat dg menyalahkan lawan bahwa dia juga demikian
• Argumentum ad verecundiam : Menggunakan autoritas palsu
• Wishful thinking : Menentang/menyetujui pendapat berdasar keinginan kita.
4. Informal Fallacy (Relevance – Presumption)
dibagi menjadi beberapa macam yaitu :
• Abussive analogy : Menggunakan analogi yg melecehkan
• Accident : Perkecualian dianggap pembenaran
• Analogical fallacy : Menggunakan analogi yang tidak tepat
• Argumentum ad antiquam : Menganggap bagus karena kuno
• Apriorism : Sok tahu lebih dulu
• Bifurcation : Membatasi cuma 2 pilihan
• Circulus of probando : Logika berputar-putar
• Complex questions (plurium interrogationum) : Menggabung beberapa pertanyaan sehingga tidak bisa sekedar dijawab Ya atau Tidak
• Cum hoc ergo propter hoc : Sesuatu yg terjadi bersamaan seolah berhubungan
• Dicto simpliciter : Generalisasi berlebihan
• Ex-post-facto statistics : Menganggap hebat sesuatu kebetulan setelah hal itu terjadi
• The gambler’s fallacy : Kesalahan memahami peluang hal yg berurutan
• Non-anticipation : Kalau memang demikian, tentu sudah sejak dulu ada tindakan
• Argumentum ad novitam : Menganggap yg baru itu lebih benar
• Petitio principii : Membuat argument yg berisi kesimpulan yg kita inginkan
• Post hoc ergo propter hoc : Kejadian yg berurutan dianggap berhubungan
• Secundum quid : Generalisasi yg terlalu cepat
• Argumentum ad temperantiam : Menganggap jalan tengah selalu yang terbaik