Sherly91′s Blog

Just another WordPress.com weblog

Juni 6, 2009

Filed under: Uncategorized — sherly91 @ 9:34 am

Untitled Document

BAB 10 : FALLACIES of REASONING

Fallacy dibagi menjadi 2 yaitu :

  • Formal Fallacy : diakibatkan salah menalar. Dari premis A menuju kesimpulan B ada langkah yang salah atau hilang.
  • Informal Fallacy : menggunakan langkah yang benar untuk menuju kesimpulan, namun melibatkan hal yang tidak memuhi syarat (bahasa, arti ambigu dlsb) Infromal Fallacy terdiri atas 4 kelompok
    • Linguistic
    • Relevance-Omission
    • Relevance-Intrusion
    • Relevance-Presumption

Formal Fallacy
terdiri atas beberapa macam:

  • Affirming the consequent : menyimpulkan sebab dari akibat.
  • Conclusion which denies premises : kesimpulan yang berlawanan dengan premis.
  • Contradictiory premises : premis yang bertentangan.
  • Denying the antecedent : menentang sebab untuk membalikkan akibat.
  • Exclusive premises : menggunakan 2 premis negatif
  • Existential Fallacy : Premis menyatakan “semua”, namun kesimpulan menyatakan “beberapa”, merayu orang percaya bahwa premis benar.
  • False conversion : membalik fakta yang mengandung “beberapa”.
  • Illicit process : satu atribut kelompok ini dan itu sama, bukan berarti atribut yang lain juga sama.
  • Positive conclusion, negative premis : Kesimpulan positif berdasar 2 premis dimana salah satunya adalah negatif
  • Quaternio terminorum : Empat pernyataan
  • Undistributed middle : ciri kelas diambil sebagian untuk menyamakan kedua kelas.

Informal Fallacy

1. Informal Fallacy (Linguistic)

dibagi menjadi beberapa macam yaitu :

•  Linguistic accent : maksud suatu pernyataan tergantung konteks (menyelewengkan maksud).

•  Linguistic amphiboly : susunan kalimat yang ambigu.

•  Linguistic composition : benar untuk setiap member, belum tentu benar untuk seluruh kelas.

•  Linguistic division : kebalikan composition.

•  Linguistic equivocation : menggunakan arti yang ambigu untuk mengakali.

•  Linguistic reification / hypostatization : menganggap setiap kata memiliki eksistensi nyata.

 

2.  Informal Fallacy (Relevance – Ommision)

dibagi menjadi beberapa macam yaitu :

•  Bogus dilemma : Seolah-olah hanya itulah pilihannya

•  Concealed quantification : Pemberian atribut yang tidak jelas, apa ke seluruh kelas, atau beberapa anggotanya saja

•  Damning the alternatives : Seolah-olah satu pilihan benar karena pilihan yang lain salah

•  Definitional retreat : Membela diri dari bantahan dengan mengubah definisi

•  Extensional pruning : Membela diri dari bantahan dengan definisi tidak umum (atau arti literal)

•  Argumentum ad ignoratiam : Menyalahkan atau membenarkan klaim atas tidak adanya bukti

•  Argumentum ad lapidem : Kepala batu

•  Argumentum ad nauseam : Menggunakan perulangan agar terlihat benar

•  One-sided assessment : Hanya melihat satu sisi masalah

•  Refuting the example : Menolak klaim dengan pernyataan yg bukan inti permasalahan

•  Shifting ground : Menyangkal dg alasan bahwa klaim awal bukan seperti itu maksudnya

•  Shifting the burden of proof : Mengalihkan tanggung jawab atas bukti

•  Special Pleading : Menuntut double standar

•  The straw man : Bila tidak bisa membantah, hajar versi extremenya

•  The exception that proves the rule : Perkecualian yg malah digunakan utk membenarkan

•  Trivial objections : Menyalahkan sesuatu yg jauh hubungannya, atau masalah-masalah sepele

•  Unaccepted enthymemes : Menggunakan enthymemes utk argumen

•  Unobtainable perfection : Menyalahkan karena tidak sempurna

 

3.  Informal Fallacy (Relevance – Intrusion)

dibagi menjadi beberapa macam yaitu :

•  Blinding with science : Menggunakan istilah ilmiah agar terlihat seolah benar

•  Argumentum ad crumenam : Kebenaran ditentukan oleh uang

•  Emotional appeals : Memanfaatkan emosi untuk mempengaruhi pendapat

•  Every schoolboy knows : Lebih baik kamu setuju daripada dibilang oon

•  The genetic fallacy : Menilai kebenaran argumen berdasar siapa sumbernya

•  Argumentum ad hominem [abussive] : Menyerang orangnya, bukan pendapatnya

•  Argumentum ad hominem [circumstancial] : Mempengaruhi pendapat dengan memanfaatkan posisi/kepentingan lawan

•  Ignoratio elenchi : Membenarkan satu pendapat karena berhasil membenarkan pendapat yg lain

•  Irrelevant humour : Guyonan digunakan untuk mengalihkan perhatian

•  argumentum ad lazarum : Orang miskin tidak selalu lebih baik daripada orang kaya

•  Loaded words : Mempengaruhi pendapat dengan kata-kata heboh penuh prasangka

•  Argumentum ad misericordiam : Mempengaruhi pendapat berdasar kasihan

•  Poisoning the well : Menyerang sebelum lawan memberikan argumennya

•  The red herring : Memberi fakta lain yg tidak berhubungan dan membuat kesimpulan tak tercapai

•  The runaway train : Membawa argumen ke hal-hal yg jauh

•  The slippery slope : Menganggap satu tahap pasti diikuti tahap-tahap berikutnya

•  Tu quoque : Menentang pendapat dg menyalahkan lawan bahwa dia juga demikian

•  Argumentum ad verecundiam : Menggunakan autoritas palsu

•  Wishful thinking : Menentang/menyetujui pendapat berdasar keinginan kita.

 

4.  Informal Fallacy (Relevance – Presumption)

dibagi menjadi beberapa macam yaitu :

•  Abussive analogy : Menggunakan analogi yg melecehkan

•  Accident : Perkecualian dianggap pembenaran

•  Analogical fallacy : Menggunakan analogi yang tidak tepat

•  Argumentum ad antiquam : Menganggap bagus karena kuno

•  Apriorism : Sok tahu lebih dulu

•  Bifurcation : Membatasi cuma 2 pilihan

•  Circulus of probando : Logika berputar-putar

•  Complex questions (plurium interrogationum) : Menggabung beberapa pertanyaan sehingga tidak bisa sekedar dijawab Ya atau Tidak

•  Cum hoc ergo propter hoc : Sesuatu yg terjadi bersamaan seolah berhubungan

•  Dicto simpliciter : Generalisasi berlebihan

•  Ex-post-facto statistics : Menganggap hebat sesuatu kebetulan setelah hal itu terjadi

•  The gambler’s fallacy : Kesalahan memahami peluang hal yg berurutan

•  Non-anticipation : Kalau memang demikian, tentu sudah sejak dulu ada tindakan

•  Argumentum ad novitam : Menganggap yg baru itu lebih benar

•  Petitio principii : Membuat argument yg berisi kesimpulan yg kita inginkan

•  Post hoc ergo propter hoc : Kejadian yg berurutan dianggap berhubungan

•  Secundum quid : Generalisasi yg terlalu cepat

•  Argumentum ad temperantiam : Menganggap jalan tengah selalu yang terbaik

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.